Tukang Pangsit punya Xenia 10 Oktober 2011
Posted by anhe51 in Serius.Tags: Pangsit, Rumah, Wirausaha
add a comment
Sewaktu saya pulang, saya melihat sebuah Daihatsu Xenia (maaf saya selalu menyebut merek) di tempat tukang pangsit langganan saya.
Tukang pangsit ini suami dan istri, mungkin umur mereka sudah 30 tahun lebih sekarang. Saya ingat sewaktu saya SMP, bersama pakde dan bude (orang tua si Mas Pangsit ini) mereka merintis jualan pangsit di daerah sekitar rumah saya. Setelah cukup lama, Mas dan Mbak berjualan di lokasi terpisah dari Pakde dan Bude. Ternyata lokasi itu sangat bagus, ada pabrik tekstil dan Akademi Pariwisata Sahid di dekat situ.
Cerita yang sudah berlangsung sepuluh tahun lebih, saya ingat beberapa kali si Mbak meminjam telepon rumah saya untuk menelepon orang tuanya di kampung dahulu. Saya juga melihat perkembangan warung mereka yang tadinya hanya atap yang disangkutkan ke gerobak dengan kursi dan meja ala kadarnya, sampai mereka membeli tanah di belakang tempat jualan tersebut dan membangunnya menjadi rumah, rumah itu akhirnya ditingkat. Suami istri yang tadinya berjualan berdua saja, sekarang sudah dibantu dua pegawainya.
Sampai cerita itu berlanjut di hari saya melihat Xenia di garasi (yang kalau siang menjadi restoran) mereka, dan masih akan berlanjut.
Sebuah Xenia mungkin adalah mobil sejuta umat, 10 tahun pun bukan waktu yang singkat. Tetapi bukan merek mobilnya yang saya nilai, usaha mereka yang dari nol itulah nilai kebanggaan sesungguhnya, hasil menekuni usaha pangsit.
–
Anton Hermansyah
Orang Asing pun Sudah di Pinggiran 4 September 2011
Posted by anhe51 in Serius.Tags: asing, ekspatriat, makan, Restoran
add a comment
Di lingkungan sekitar saya tinggal, daerah Pamulang dan Ciputat memang sudah tidak bisa dibilang Jakarta lagi, tapi kalau saya ke luar kota tetap saja disebutnya ‘Orang Jakarta’.
Bicara soal Jakarta, dua daerah yang saya kagumi adalah Blok M dan Kemang, kenapa?
Dua daerah itu hidup sampai malam, dan banyak orang asing di sana. Karena banyak orang asing, tentunya ada restoran-restoran untuk memuaskan dahaga orang-orang itu terhadap makanan kampung halamannya. Bahkan di Blok M sudah banyak supermarket yang khusus menyediakan kebutuhan ekspatriat, seperti supermarket Korea dan Jepang. Pantas daerah ini dijuluki Little Tokyo.
Namun belakangan di daerah Pamulang dan Ciputat saya sudah bisa menemukan dua restoran yang menyediakan makanan asing. Di Pamulang ada restoran Jepang yaitu Take Tei ( secara harfiah artinya ‘Restoran Bambu’) dan di daerah Cireundeu (masih termasuk kecamatan Ciputat) ada restoran Italia, Signora Pasta (artinya ‘Pasta Nyonya’).
Soal masakan, Jepang dan Italia memang sudah umum dimakan oleh orang Indonesia, di kaki lima pun kita bisa menemukan masakan Jepang, Pizza dan Spaghetti di rumah pun sudah gampang dibuat. Yabg istimewa adalah kedua restoran ini dimiliki oleh orang asing yang memang asli dari negaranya, Jepang dan Italia.
Kadang saya bingung, kok bisa-bisanya mereka terdampar di daerah sejauh ini? Tetapi kehadiran mereka membuka wawasan akan masakan-masakan khas negara tersebut yang masih jarang dicoba oleh orang Indonesia.
Selama ini kita hanya mengenal masakan Jepang sebatas beef teriyaki, tempura, atau sushi. Take Tei menawarkan menu-menu rumahan seperti ikan sanma, oyakotoji (nasi di mangkuk dengan telur ayak dan ayam), dan soba (mi besar dari tepung beras). Tentunya menu-menu umum seperti katsu dan teriyaki juga disediakan (untuk mereka yang konvensional).
Signora Pasta menawarkan menu-menu otentik Italia, kita akan merasa penasaran dengan pizza margherita, tidak ada meat lover atau american favourite di sini, padahal jenis margherita inilah resep pizza paling dasar hanya ada saus tomat, keju mozarella, dan beberapa potong daging. Selain itu masih ada pasta rigatoni (mirip macaroni tapi ini ukuran besar), caneloni (daging dengan saus keju dibungkus dengan kulit roti), fusilli (pasta berbentuk spiral). Bahkan saus spaghetti pun ada macamnya, carbonara (krim susu) atau bolognaise (krim tomat).
Saya merasakan meski kedua restoran tersebut kecil tetapi keduanya rapih dan bersih. Jauh dari kesan remang-remang yang biasanya dipakai oleh restoran yang ada sejak jaman dahulu untuk menunjukkan nostalgia tetapi jadinya malah terkesan tak terawat, kedua restoran ini terang dan minimalis. Namun pilihan kursi, meja, piring, dan lantai mereka entah mengapa sudah bisa menimbulkan kesan otentik tersebut. Pemilik-pemilik reatoran tersebut juga terkadang keluar dan menyapa pengunjung dengan Bahasa Indonesia yang lumayan lancar dan masih kental logat asalnya.
Karena bukan daerah ekspatriat, konsumennya lebih banyak orang Indonesia, yah kalau masuk ke dalam ternyata banyak orang asingnya malah minder juga kan, jangan-jangan makan sushi tidak boleh pakai sendok atau table manner kita ditertawakan, tenang saja lah. Rasa cocok dengan lidah Indonesia dan harga pas.
Semoga ke depannya Pamulang dan Ciputat mempunyai lebih banyak lagi restoran semacam ini. Internasionalisasi sudah sampai ke pinggiran Jakarta ternyata.
–
Anton Hermansyah
Khutbah yang Efektif 2 Agustus 2011
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Agama, Khutbah, Penceramah
add a comment Mulai bulan Ramadhan tahun ini, kebijakan masjid di kompleks saya adalah tidak setiap hari diadakan khutbah sebelum Shalat Tarawih. Mungkin kebijakan ini meghilangkan elemen tradisional yang biasa dirasakan sewaktu Tarawihan (ingat harus mencatat khutbah Tarawih sewaktu kecil dan minta tanda tangan Khatib -penceramah- ?).
Yang jelas kebijakan ini menguntungkan orang seperti saya yang jika pulang masih harus mengerjakan sesuatu di rumah. Daripada harus terkantuk-kantuk mendengar ceramah xP.
Mungkin ini sentimen saya pribadi tetapi sekedar bertanya apakah khutbah tersebut jika diadakan akan efektif?
Di masjid, setidaknya yang ada di kompleks rumah saya, yang datang ada bermacam-macam, mulai anak kecil, ABG, sampai kakek-nenek. Tingkat pemahaman, logika mereka berbeda, tentunya bahasa juga harus berbeda. Menurut saya mungkin ada sekelompok orang yang tidak mendengarkan isi khutbah tersebut, entah karena tidak mengerti, atau mungkin terlalu mengerti sehingga merasa diulang-ulang, khutbah yang ditujukan untuk anak kecil belum tentu isinya menarik bagi mahasiswa.
Saat ini pun orang, dalam berbagai tingkatan logika dan pemikiran, sudah mempunyai preferensinya masing-masing, termasuk soal penceramah. Mungkin saya lancang, tetapi menurut saya sudah bukan zamannya Da’i Sejuta Umat seperti Alm. Zainuddin M.Z. dulu.
Orang sudah tahu bahwa pangsa pasar Ustad Jeffry adalah anak-anak muda, Arifin Ilham adalah keluarga muda, Mamah Dedeh untuk orang-orang paruh baya, dan Ustad Al-Habsy adalah untuk orang yang suka dengan Logat Arab (yang terakhir ini saya kutip dari Mas Santoso).
Masing-masing perlu bahasa yang berbeda. Saya pernah mendengar khutbah di daerah kampung, isinya sederhana dan cenderung mendoktrin, berbeda dengan khutbah di kampus di mana yabg berceramah adalah dosen bahkan profesor, menarik untuk mendengarkan masalah agama dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang mereka miliki, juga lebih dalam, ya karena tinglat pendidikan mereka. Tetapi mungkin hanya mereka yang paling tidak sudah berpendidikan yang mengerti khutbah tersebut, begitu juga sebaliknya apabila orang-orang yang berpendidikan ini mendengar khutbah di kampung tadi.
Hanya sekedar opini, mungkin bisa menjadi sebuah pertimbangan, setidaknya ada indikasi bahwa pendidikan di Indonesia belum merata.
–
Anton Hermansyah
Beramai Ramai Lapar di Malam Hari 31 Juli 2011
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: KFC, Makanan, McDonald, Restoran
add a comment

Jika saya berada di 10 tahun yang lalu dan tiba-tiba merasa kelaparan jam 10 malam, kira-kira apa yang bisa saya lakukan?
Pertama mungkin mencari makanan di dapur. Kedua, mencari tukang nasi goreng atau bakso yang masih jualan di malam hari. Ketiga, ke restoran cepat saji terdekat?
Opsi ketiga mungkin tidak akan berhasil, begitu saya sampai di sana karyawan yang sedang bersih-bersih akan mengatakan, “maaf mas, sudah tutup”. Ya iyalah, jam 10 malam 10 tahun yang lalu.
Definisi dari jam operasional restoran cepat saji jaman dahulu adalah jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Malah seingat saya, kita tidak akan bisa mendapatkan makanan standar jika sudah di atas jam 9. Nasi sudah dingin, ayam hanya sisa, burger pun sudah malas dibuat, jika dibuat mungkin hanya setengah hati.
Lain dulu lain sekarang, restoran siap saji pun sekarang menganut operasional 24 jam. KFC dan McDonald’s sudah melakukannya. Hasilnya, memuaskan dan restoran penuh.
Sewaktu di Makassar (dahulu dikenal dengan nama “Ujungpandang”) beberapa kali saya ke KFC malam hari jam 11 dan jam 12, restoran tersebut masih (atau memang sedang) ramai-ramainya.
Foto di posting ini adalah foto yang saya ambil di McDonald’s di Gaplek, delat rumah saya. Foto ini diambil jam 10.30 dan percaya atau tidak, sewaktu jam 10 saat sudah mengambil makanan, saya hampir tidak kebagian tempat duduk, itu pun menumpang makan dengan orang lain.
Saya membayangkan, apabila manajer restoran tersebut masih menganut jam operasional yang tradisional maka ia akan kehilangan berpuluh-puluh pesanan dan beberapa puluh juta, dalam satu hari (ya, hitungan hari). Entah berapa opportunity cost yang lepas dalam sebulan.
Siapa Konsumennya?
Di McD tersebut saya melihat banyak didominasi para ABG dan beberapa orang paruh baya yang berkumpul, mungkin mereka sehabis malam mingguan, kegiatan klub atau apalah yang membuat mereka capai di malam hari. Sedikit heran apakah orang tua para ABG tersebut tidak memberlakukan jam malam?
Mereka perlu makanan, tidak usah terlalu berat, minuman sekadarnya dan waktu duduk yang lama. Jelas format menu restoran cepat saji yang lama tidak akan mendukung hal ini. Terlalu mahal, terlalu besar dan kurang banyak pilihan untuk sekedar camilan.
Kursi yang digunakan juga bukan tipe kursi yang nyaman untuk duduk berlama-lama, keras saya rasa sekarang pun juga masih, tetapi kursi-kursi restoran cepat saji saat ini lebih ergonomis.
Piring jelas bukan sebuah pilihan yang praktis di saat ini. Terlalu berat untuk dibawa oleh kosumen, terlalu besar untuk di meja yang kecil dan berisiko untuk pecah.
Saat ini paradigma restoran cepat saji di Indonesia, khususnya di kota besar telah berubah, konsumen bisa datang kapan saja, dan di mana ada konsumen berarti akan ada uang mengalir, termasuk di malam hari.
–
Anton Hermansyah
Rindu Rumah 30 Juli 2011
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: kerja, survei
add a comment
Tidak terasa saya sudah 2 minggu lebih di Bumi Sulawesi, bertualang mencari data responden (baca: “survei“). Ini petualangan terlama sekaligus terjauh yang pernah saya alami sampai saat ini. Mungkin saya merasa seperti sudah di ambang batas.
Ada sebuah perbedaan niat, misalkan, di sini saya bertemu Adi, teman saya yang oleh BNI ditempatkan di Makassar. Adi memang sudah mempersiapkan diri untuk jangka panjang di sini, niatnya beda. Saya bertugas untuk “membereskan” data di sini secepat mungkin dan membuat laporan ke kantor.
Yah, semoga semuanya akan beres secepatnya.
–
Anton Hermansyah
Tidak Bisa Tanpa Ijin 7 Juli 2011
Posted by anhe51 in Serius.Tags: ijin, kerja, survei
add a comment
Saat ini, Sulawesi Selatan dan Barat (sebagian maksudnya) sudah enam hari saya jelajahi. Tidak keren seperti orang-orang National Geographic Traveler yang berkunjung ke Tana Toraja mengambil foto-foto eksotis, saya mengambil data orang-orang Sulawesi.
Mungkin suatu saat nanti kesempatan ke Sulawesi tanpa tekanan pekerjaan akan datang.
Entahlah tetapi dalam menjalankan pekerjaan ini, rasanya harus selalu meminta ijin terlebih dahulu, kepada Tuhan juga keluarga. Sebelum saya memulai survei ini, saya shalat terlebih dahulu, kewajiban sebagai muslim. Pernah saya lalai, dan hasilnya kemarin survei tidak berjalan lancar.
Waktu saya SMP, saya saat itu sudah dibelikan motor. Motor pertama saya si legendaris
Jialing Bangau, saat itu saya main meskipun sudah dilarang oleh ibu saya. Saat belum jauh dari rumah, jari jempol saya tersangkut benang layangan, saya terjatuh, karena tanpa helm dan hanya celana pendek, luka saya parah, dan akibatnya tidak bisa main hari itu, dan harus pincang selama seminggu.
Yah percaya atau tidak, Sulawesi mengingatkan saya pada memori SMP saya.
–
Anton Hermansyah
Telefon yang Bukan Telefon 17 Oktober 2010
Posted by anhe51 in Serius.Tags: Komunikasi, teknologi
add a comment
Sudah beberapa bulan ini telefon saya jarang berbunyi. Ini ungkapan sebenarnya bukan kiasan. Jarang saya mengangkat telefon untuk berbicara kecuali kepada keluarga.
Jadi untuk apa saya harus membeli telefon?
Untuk mengirim surat elektronik, untuk mendengarkan musik, untuk berselancar di dunia maya, untuk chatting dengan teman-teman, semua bisa dilakukan oleh ‘telefon’.
Aneh? Memang, karena telefon berasal dari dua kata “tele” dan “fon“. Tele artinya jarak jauh dan fon artinya suara (entah bagaimana sekarang menjadi ‘pon‘ mungkin ulah Orang Sunda). Jadi telefon hakikatnya adalah alat untuk ‘mengantarkan suara dari jauh’. Tetapi unsur ‘suara’ itulah yang belakangan ini dilupakan.
Setidaknya itu yang terjadi pada saya.
Teman-teman saya lebih suka memberi kabar melalui messenger entah itu Blackberry Messenger, Yahoo! Messenger, Facebook Talk atau Google Talk (saya tidak pakai MSN Messenger). Kalauoun ada beberapa dengan media lain itu adalah SMS, lagi-lagi tulisan. MMS yang dahulu digadang-gadang sebagai penerus SMS pun tidak pernah terdengar lagi, dan percaya atau tidak, saya belum pernah menerima MMS sekalipun!
Telepon dengan kemampuan video call saya pun tidak pernah punya. Dulu di film-film fiksi ilmiah digambarkan bahwa jika menelefon ada gambar orang yang sedang berbicara dengan kita. Saya pikir video call adalah perwujudan dari gambaran di film. Nyatanya beberapa tahun berlalu masih jarang saya lihat orang melakukan video call ternyata perkiraan sutradara film fiksi ilmiah pun bisa meleset.
Penyebabnya apa?
Saat ini layanan operator telepon terbagi dua yaitu ‘suara’ dan ‘data’. Sejauh ini operator menetapkan paket harga tetap tanpa batas untuk data. Dengan membayar sejumlah tertentu kita bisa menggunakan layanan data sepuasnya. Tetapi untuk layanan suara masih saja konvensional, berbasiskan waktu dan tidak ada yang betul-betul namanya paket ‘berbicara sepuasnya’. Keadaan ini ditambah dengan heterogenitas operator di Indonesia, padahal yang paling mahal adalah berbicara antar operator.
Hasilnya?
Ya seperti inilah, pada akhirnya telefon menjadi tidak seperti asal katanya. Setidaknya fungsinya sebagai alat penghubung tetap terjaga.
–
Anton Hermansyah
Sabtu Minggu Malah Sibuk 9 Oktober 2010
Posted by anhe51 in Tidak Serius.Tags: Kehidupan
add a comment
Setelah saya dan teman-teman sudah mempunyai kehidupan baru di tengah kota Jakarta (baca: ‘bekerja’), kami pun sadar bahwa telah mempunyai jalan sendiri-sendiri. Memang ada yang beruntung bisa satu kantor dengan teman satu perjuangan, seperti saya dan Bubu. Maka terkadang keinginan untuk berkumpul pun muncul.
Tetapi justru terlalu banya kumpul pun tidak enak, selain karena orangnya yang bisa hanya itu-itu saja hal ini malah saya capek di akhir pekan.
Sebagai kaum komuter yang harus bolak-balik antar kota antar propinsi setiap harinya, saya pun kenyang dengan macetnya Jakarta pada hari kerja. Sialnya, tidak ada tempat kumpul yang lebih baik daripada tengah kota. Dan rumah saya… Yah bilanglah itu desa.
Memang berat, apalagi sudah terserang macet di dekat rumah (Para pejabat Tangerang Selatan, mohon diperlebar jalannya), pernah saya menghabiskan waktu di jalan Pondok Cabe – Lebak Bulus selama 2 jam, padahal spanduk developer perumahan mengatakan, “hanya 10 menit dari Jakarta”. Sungguh promosi kadang tidak sebanding dengan apa yang ada di kenyataan.
Seringkali saya pulang malam hari pada hari Senin- Kamis, bukan karena sibuk juga, tetapi keasyikan dengan suasana kantor sehabis Maghrib, sepi dan tenang. Sehingga pada hari Jumat saya sering merasa bersalah dan berniat ‘menebus dosa’ dengan pulang cepat. Sialnya, hari Jumat adalah hari yang ideal untuk berkumpul. Menjelang sore, tawaran berkumpul mulai muncul dan memang sulit untuk ditolak.
Kesimpulannya di hari Jumat?
Bukannya saya pulang sore malah hari itu saya pulang paling malam.
Sabtu-Minggu?
Katakanlah jika anda menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan kantor dari Senin sampai Jumat, artinya anda tidak mengerjakan hal lain di hari itu. Kapan saat mengerjakan hal lain? Sabtu-Minggu lah jawabannya. Membersihkan rumah, merawat kendaraan, mengurus kekasih yang mulai rewel, bahkan sampai menghadiri undangan pernikahan teman SMA yang disampaikan via event atau tag photo Facebook. Memang bukan kegiatan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan, tapi itulah kewajiban sebagai makhluk sosial, hidup bukan sekedar untung dan rugi bukan?
–
Anton Hermansyah
Membeli Pulsa 22 Juli 2010
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: teknologi
add a comment
Ritual membeli pulsa memang sudah jadi kebiasaan saya tiap bulan. Meski tanggalnya tidak karena kadang saya lumayan irit kadang terlalu boros.
Sebagai orang yang tidak punya duit perhitungan, saya selalu membeli pulsa yang nilai nominalnya lebih kecil daripada intrinsiknya. Dulu saya bela-belain beli pulsa Telkomsel 100,000 karena harganya Rp 96,000, kalau pulsa 50,000 harganya Rp 52,000. Dan waktu itu tukang pulsa masih jarang.
Sekarang?
Orang jual pulsa di mana-mana, bahkan hati-hati, orang terdekat anda pun bisa jadi adalah agen pulsa hahaha. Sayangnya noiminal voucher pulsanya kecil-kecil, maksimal hanya Rp 25,000, tuntutan zaman mungkin. Voucher pulsa tersebut dijual dengan harga di atas nominalnya, biasanya Rp 27,500 atau paling murah Rp 26,000.
Kalau mau beli yang besar mas? Seratus ribu?
Wah pakai yang elektrik saja, kata penjual pulsa. Oke memang besar, tetapi perlu waktu 2 jam sampai diterima. Biayanya? Ya harga voucher yang Rp 26,000 itu dikali 4 saja. Waduh, kok malah tidak economics of scale?
Akhirnya lebih baik saya beli di ATM. Beda dengan tukang pulsa, di sini nominal minimal 50,000 (kadang ada yang 25,000). Biarpun harga akhiirnya sama dengan nilai nominal nya, tak ada diskon tak ada premium, ternyata lumayan bisa diandalkan. Pulsa baru masuk dengan cepat, lagipula bila transaksi tidak jalan, bank lebih mudah untuk menyampaikan keluhan di banding tukang pulsa pinggir jalan.
–
Anton Hermansyah
WordPress Mobile 11 Juli 2010
Posted by anhe51 in Serius.Tags: aplikasi, wordpress
add a comment
Sekarang zamannya mobile, orang-orang bepergian tetapi ingin tetap terkoneksi. Jika dulu ada lirik “di tengah keramaian aku masih merasa sepi” (Dewa – Kosong), sekarang meski di tengah sendiri kita bisa merasa ramai.
Ya, dengan telepon genggam di tangan, kita bisa tahu kabar teman-teman dan handai tolan. Jika dahulu dengan SMS atau telepon, sekarang dengan jejaring sosial, Facebook, Twiter, MySpace dan lain-lain. Terutama Twitter yang lebih efektif dalam penggunaan via telepon genggam.
Tetapi update status di Facebook, atau tweet di Twitter bukanlah substitusi sempurna dari kenikmatan menulis artikel fan berekspresi di Blog. Tetapi karena lebih sering bepergian dan jarang di depan komputer, kita lebih sering update tuliasan pendek ketimbang posting artikel. Bagaimana dengan aplikasi Blogging kesayangan kita ini?
Sekarang sudah ada Wordpress Mobile, kita dapat membuat posting dari telepon genggam. Posting ini dilakukan dari WordPress Mobile, kesan pertama? Wow…. pada awalnya… akhirnya saya cuma bisa bilang lumayan.
Sistem update post di sini bisa bentuk besar dari Twitter, atau bentuk kecil dari WordPress Desktop. Disediakan editor kecil dengan karakter tidak terbatas. Hanya saja saya kesulitan untuk memformat huruf di sini.
Yang saya sayangkan adalah ketiadaan editor HTML di versi mobile ini. Saya membagi blogger ke dalam dua kelompok, journalist based dan IT based. Saya termasuk yang kedua, dengan basis IT, kerapihan tag merupakan hal pentinf bagi saya dibanding sekedar aebuah artikel yang bagus. Mungkin menggunakan WP Mobile akan membuat saya harus kerja dua kali karena harus merapihkan tag nya lagi via WP Desktop, tetapi inspirasi menulis datang di mana saja dan kadang hanya sekali kan?
Terakhir adalah aplikasi ini baru tersedia untuk telepon genggam dengan Operating System (saya menggunakan WP Mobile untuk Android). Saya harap versi Java yang notabene hampir semua telepon genggam punya.
Sambil menunggu perkembangan lebih lanjut, mari kita nikmati WP Mobile terlebih dahulu.
–
Anton Hermansyah




