Rumah Itu di Dada 11 Juni 2010
Posted by anhe51 in Tidak Serius.Tags: Rumah, Tempat
add a comment
Sebenarnya ini cerita sudah agak lama, tapi memang baru sempat tulis sekarang. Hampir dua bulan yang lalu saya, Boni, Radit danBubu menonton film Date Night. Di film yang dibintangi Tina Fey, Steve Carrell plus sejumlah cameo itu memang bagus dan menghibur.
Posting ini memang bukan untuk resensi film, tetapi ada adegan yang sebenarnya lucu tetapi juga mengesankan. Saat pasangan ‘Tripplehorns’, Taste (James Franco) dan Whippit (Mila Kunis) bertengkar saat akan meninggalkan rumah.
- Whippit: I don’t know but maybe leaving is not such a good idea… This is our home…
- Taste: Hey… no it’s not (membuka baju, menunjukkan dada yang ditato muka Whippit)… this is your home
Adegannya bisa dilihat di sini (kalau belum dihapus):
Saya mungkin bukan anak sastra apalagi redaktur bahasa, tetapi kalau boleh analisis sedikit…
Ada 2 kata dalam Bahasa Inggris yang berarti ‘rumah’ dalam Bahasa Indonesia yaitu ‘house‘ dan ‘home‘. Ada perbedaan di antara kedua kata tersebut, house itu kata benda yang secara harafian artinya bangunan tempat tinggal. Home lebih abstrak, tidak berupa bangunan tetapi sebuah tempat untuk pulang.
Jika house lokasinya terletak di alamat bangunan tersebut, lalu di manakah letak home…??
Jawabannya ada di adegan tadi…
Rumah (home) itu ada di dada (hati).
Kita masih bisa pulang ke rumah (home) apabila masih ada hati orang-orang yang menyayangi dan mau menerima kita, meskipun belum tentu ada rumah (house) yang berwujud. Sebaliknya kita tidak bisa pulang apabila di rumah (house) apabila di sana tidak ada yang mempunyai hati untuk kita, maka tidak layak rumah itu disebut rumah (home).
Beruntunglah bagi kita yang masih mempunyai rumah.
–
Anton Hermansyah
Resume Tiga Hari 25 Mei 2009
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Diari, Keluarga, Makanan, Rumah, Tempat
2 comments
Selama tiga hari ini Sabtu, Minggu dan Senin ada beberapa pengalaman yang bisa di ceritakan, meskipun ini gara-gara nggak sempat nulis blog kemarin-kemarin sih.
Sabtu – Futsal dan Masuk Angin
Setiap dua minggu sekali saya “dipaksa” main futsal di Goals Fatmawati seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya tapi kali ini kondisinya berbeda. Pertama, yang main jauh lebih sedikit dari yang lalu jadinya nggak ada ganti atau substitusi. Kedua, kalau minggu kemarin saya makan ala binaragawan (pagi oatmeal, siang telur, dan malam buah), minggu ini makan ala Paman Gembul, apa saja dimakan, jadinya metabolisme tubuh kacau kembali (istilah trainer saya). Ketiga, pagi-pagi cuma makan Soy Joy dan perut kosong melompong.
Futsal dan Lagu Mellow 9 Mei 2009
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Diari, Iseng, Tempat, Wanita
add a comment

Hari ini saya diajak ikut main futsal di Goals Fatmawati, Ini juga karena diajak si Aan, sebelumnya harus mengucapkan happy birthday to Adi Gemilang yang ultahnya jatuh di hari ini, tapi nggak ada kabarnya maupun update tentang traktiran, keasyikan pacaran kali.
Oke balik lagi ke soal futsal, asyik aja sih ada kegiatan di akhir minggu dan dunia lelaki pula (tak ada wanita kecuali ibu penjual minuman di situ –sumpah). Dasar bukan pecinta sepak bola jadi saya nggak punya sepatu futsal sama sekali, yang ada cuma sepatu sendal nggak bisa pula dipakai main, jadilah harus telanjang kaki alias Nyeker.
Tapi ternyata enak juga main futsal, biar kata teman-teman saya main kayak American Football, nabrak-nabrak orang mulu kerjaannya. Saya lari-lari terus dengan semangat seperti pejuang kita melawan penjajah….akibatnya pas pulang kaki ini pegel-pegel, dan kalau harus angkat paha rasanya sakit banget mana ditambah melepuh pula.
Yah, dua minggu lagi mesti main, kalau kabur tak beralasan di denda lima ribu katanya.
***
Hari ini dapet lagi satu lagu yang sesuai dengan theme song saya akhir-akhir ini, setelah sukses dengan Anggie – Ke Mana Kau, hari ini ada satu lagu Jazzy yang diputar di radio, setelah dicari-cari lagu itu Ariss – Biarkanlah Cinta, kayaknya sih bukan Aris Idol, wong suaranya aja beda, untuk liriknya sih begini :
Kulabuhkan hatiku hanya untuk dirinya
Tak tau mengapa aku jatuh cinta
Ku tau hati ini tak mungkin memilikinya
Kau telah berdua bahagia dengannyaReff :
Dan biarkanlah cinta
Tumbuh dan mewangi di dalam hatiku
Walaupun tak sewangi yang aku rasa
Tetapi engkau memang kucintaDan biarkanlah cinta
Menjadi teman sepi dalam perihku
Karena ku tak bisa mengungkapkan padanya
Yah lumayan lah…cocok sama tema saya akhir-akhir ini.
***
Sebagai penutup, teman saya Retha menulis cerita ini di notes Facebooknya, ini ceritanya :
Cinta dan Perkawinan
Seorang murid bertanya pada gurunya, “Apakah itu cinta?”
Sang guru menjawab, “Pergilah ke sawah dan carilah padi terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah — kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.
Murid itu pun pergi ke sawah dan mulai mencari padi terbesar.
Pada baris pertama dia melihat sebuah padi yang besar tetapi dia berpikir mungkin nanti dia akan menemukan yang lebih besar, kemudian dia mencari lagi dan menemukan yang lebih besar, apabila dia mencari terus mungkin ada yang jauh lebih besar lagi. Setelah dia mencari lebih dari setengah sawah dia menyadari tidak ada yang lebih besar seperti yang dia lihat sebelumnya. Dia sadar bahwa dia telah melewatkan yang paling besar dan menyesali perbuatannya.
Sang murid pun kembali dengan tangan hampa.
Sang guru menerangkan bahwa inilah cinta, kamu bersikeras mencari yang lebih baik, tetapi kemudian kamu menyadari bahwa telah melewatkan yang terbaik.
Sang murid bertanya lagi, “Jadi, apakah itu pernikahan?”
Sang guru menjawab, “Pergilah ke ladang dan carilah bonggol jagung terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah — kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.
Murid itu pergi ke ladang dan mencari.
Tak mau mengulangi kesalahannya, sampai di tengah ladang dia telah memetik jagung berukuran sedang yang dia rasa telah memenuhi kriterianya, lalu dia kembali kepada gurunya.
Sang guru mengatakan, “kali ini kamu kembali dengan jagung, kamu telah memilih yang baik, kamu yakin dan percaya bahwa inilah yang terbaik yang bisa didapat inilah pernikahan.”
Bersikaplah ramah pada setiap orang, tetapi lakukan yang lebih intim dengan beberapa orang dan yang beberapa itu haruslah dipahami cukup baik sebelum kamu memberikan kepercayaan padanya.
–
Anton Hermansyah
Kelas Kosong 1 Mei 2009
Posted by anhe51 in Tidak Serius.Tags: Diari, Tempat
add a comment
Hari ini, seperti yang sudah saya tulis di Twitter Saya adalah hari kuliah pagi untuk pertama kalinya di tahun ini. Kuliah pengganti sih…biasanya kuliahnya siang.
Karena permasalahan absen yang sudah mentok hari ini makanya harus masuk ke kelas, bela-belain mandi pagi-pagi, karena mandinya kelamaan, saya terpaksa naik motor, padahal masih trauma dengan badai semalam di mana saya harus mengarungi badai gila itu dengan MOTOR.
Sampai di kampus, ternyata udah telat 20 menit langsung buru-buru ke papan pengumuman, lihat kelasnya ada di ruang mana, ternyata kelasnya ada di lantai 3, dan karena di kampus tercinta ini belum ada lift jadilah harus naik tangga, menyiksa paha yang seharusnya dilatih di ruang fitness.
Tapi sampai di sana….
- Buka pintu…ckrekkk
- Pintu terbuka
- Tada…dammm…KELASNYA KOSOOONGG
- Saya berteriak “Anybody Home..!!..??”, tapi tak ada yang menjawab, kalaupun ada palingan jin penjaga ruangan itu
Ya Tuhan, di mana keadilan….hu…hu…hu… Jangan sampai hal yang lebih buruk menimpaku hari ini…
–
Anton Hermansyah
Sepeda Kuning di Kampus Kuning 25 Juli 2008
Posted by anhe51 in Tidak Serius.Tags: Diari, Tempat
2 comments
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya di Kampus UI Depok kita dapat menikmati fasilitas sepeda kuning. Jalur sepedanya sendiri telah dibuat sekitar enam bulan yang lalu, tapi sepedanya kok tidak muncul-muncul juga?
Baru kemarin (21/7), sewaktu pulang dari kampus saya menemukan beberapa orang sedang mengayuh sepeda kuning di jalur sepeda tersebut. Di antara orang-orang yang saya lihat, ada dua makhluk yang sepertinya saya kenal yaitu teman-teman saya Indra dan Hoyrul. Dari cerita mereka saya mengetahui kalau meminjam sepeda kuning prosesnya mudah dan praktis, yaitu :
- Pergi ke tempat penitipan sepeda (ada di Asrama Mahasiswa, Masjid Kampus, Stasiun, dan Fakultas Psikologi).
- Tunjukkan KTM kepada petugas penjaga di sana, nomor KTM anda akan dicatat.
- Anda sudah bisa mengendarai sepeda kuning.
- Jika sudah selesai, sepeda dapat dikembalikan ke tempat penitipan yang mana saja, tidak usah tempat penitipan yang sama saat mengambil. (misalkan, meminjam di Fakultas Psikologi tapi mengembalikan di Asrama)
Sepeda kuning ini dapat menjadi alternatif untuk anak-anak UI menjelajahi Kampus UI Depok selain menggunakan bis kuning. Lebih sehat dan lebih cepat (jika anda seorang Lance Armstrong) juga membantu mengurangi polusi di bumi ini.
Ironisnya, sampai saat ini saya belum pernah mencobanya, semoga dalam waktu dekat ini saya dapat mencoba sepeda kuning ini.
–
Anton Hermansyah
Tak Direncanakan; Bag II : Masjid Kubah Emas 10 Juli 2008
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Diari, Tempat
add a comment
Pada artikel sebelumnya, diceritakan bahwa saya bersama, Alet, Mitha dan Yura pergi ke Situ Babakan. Pada artikel ini petulangan berlanjut ke Masjid Kubah Emas di daerah Meruyung, Depok, Jawa Barat.
Beginilah Ceritanya :
Sewaktu kami pulang dari Situ Babakan, saat itu sudah sekitar jam lima sore. Merasa masih kurang puas dengan pengalaman yang didapat di hari itu, kami semua berkeinginan untuk pergi ke sebuah tempat lagi, kemudian Mitha menyarankan kami untuk pergi Salat Maghrib ke Masjid Kubah Emas karena letaknya tidak jauh dari Situ Babakan dan sekalian jalan pulang ke arah UI lagi (Mitha dan Yura memang tinggal di daerah sekitar UI). Saya, Alet dan Yura memang belum pernah pergi ke sana dan sangat penasaran akan kemegahan masjidnya.
Kami pun mulai menelusuri jalan-jalan kecil seputaran Jagakarsa, Cinere dan Meruyung. Ternyata perlu sedikit perjuangan untuk menuju ke sana, terutama bagi Yura dan mobilnya, karena jalannya kecil, padat dan berlubang, makin parah jika sudah masuk daerah Meruyung. Ada satu buah truk kecil yang terperosok di parit dapat membuat macet jalan yang jika dilewati membutuhkan waktu sekitar 10 menit, karena hanya tersedia satu lajur untuk masing-masing arah.
Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju Masjid Kubah Emas dari Situ Babakan. Begitu masuk kami harus membayar Rp. 3.000 untuk biaya perawatan masjid dan Rp. 2.000 untuk parkir mobil, lingkungan luar masjid ini seperti tempat wisata, ada pasar cindera mata begitu pula dengan penjual makanan dan minuman, masjid pun tidak buka setiap waktu, ditutup pada jam 20.00 dan dibuka lagi jam 4.00.
Begitu masuk ke masjid ini, kami langsung terkagum-kagum, rasanya seperti ada di dunia lain, setelah melewati jalan Meruyung yang jelek, kami dihadapkan dengan sebuah masjid yang megah dengan taman bergaya timur tengah. Sedangkan Masjid Kubah Emas terlihat megah di malam hari (saat itu sekitar pukul 18.30)
Kami pun parkir di dalam kompleks masjid, dan mulai berpisah karena tempat masuk pria dan wanita berbeda (dan cukup jauh pula). Saya dan Yura memasuki masjid dari pintu pria, di situ memang diarahkan oleh pembatas jalan agar masuk ke tempat wudhu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam masjid. Tempat wudhunya terletak di bawah tanah dan sangat megah, temboknya dihias dengan batu-batuan (saya tidak tahu itu batu apa, mungkin marmer), toiletnya pun sangat bersih. Saya pun masih penasaran, jika tempat wudhunya seperti ini, bagaimana di dalam masjidnya ya?
Saya dan Yura memasuki pintu masuk masjid yang besar, ruangan masjid yang megah pun menyambut kami. Dihiasi oranamen putih dan tiang-tiang yang besar, bagian dalam kubah dihiasi dengan lukisan langit dan terdapat lampu gantung kristal yang mewah.
Saya pun berkeliling, melihat pintu masjid di sebelah utara (kami masuk dari selatan), di sebelah utara masjid terdapat sebuah rumah yang megah dan besar, mungkin itu adalah rumah ibu Dian, pemilik kompleks masjid ini.
Setelah menjalani shalat isya berjamaah dengan “suasana Arab”, kami berempat berkumpul di mobil Yura untuk bersiap-siap pulang ke Depok. Tetapi Alet dan Mitha ingin pergi ke kamar kecil, ternyata kamar kecil untuk wanita tidak terletak di tempat wudhunya, tetapi di bangunan terpisah dari masjid dan letaknya agak jauh dari masjid. Kami agak kesulitan menemukannya, tanpa sadar sudah pukul 19.40, saat itu pengurus masjid sudah berkeliling membunyikan sirine dari toa-nya karena masjid akan ditutup.
Jalan pulang kembali ke Depok untungnya tidak separah jalan pergi ke masjid, setelah sampai di Depok, kami pulang ke rumah masing-masing, berakhirlah sudah perjalanan yang hanya berawal dari kata “bosan” ini.
–
Anton Hermansyah
Tak Direncanakan; Bag I : Situ Babakan 5 Juli 2008
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Diari, Makanan, Tempat
add a comment
Bagi saya sering kali suatu hal tidak terlaksana kalau direncanakan, seperti niat saya ingin pergi ke Kanekes atau bahkan rencana menonton film di bioskop tidak jadi-jadi terlaksana.
Perjalanan kali ini bermula dari sebuah kata yaitu “Bosan”. Saya bersama 3 orang teman saya Alet, Yura dan Mitha (yang kami “culik” saat sedang menunggu bis untuk pulang) pergi ke Situ Babakan tempat Cagar Budaya Betawi
Situ Babakan terletak tidak begitu jauh dari Kampus UI Depok, tepatnya di daerah Jagakarsa dan untuk memasuki Situ Babakan harus melalui jalan-jalan yang relatif kecil, karena bukan jalan raya. Sampai di sana anda akan disambut oleh pintu gerbang bergaya Betawi. Jalan di dalamnya emm, bisa dibilang kecil dan sempit, mungkin untuk membuat suasana seperti di “kampung”.
Kami langsung masuk ke dalam kawasan situ, pilihan pertama kami adalah naik bebek-bebekan yang ada di sana, kami harus membayar Rp. 8.000 per “bebek”. Karena 1 “bebek” bisa ditumpangi 2 orang, maka satu orang harus membayar Rp. 4.000
Cukup murah dan cukup senang, kami bersepeda air selama hampir setengah jam. Kaki rasanya sudah lelah mengayuh. Saya sudah capai tapi Mitha bilang “Utilitasnya belum maksimal!“, suatu bahasa anak FE yang artinya “Belum puas!”
Setelah selesai main di air, kami mulai mencari makan, kami pun langsung mencari tempat duduk yang memang sudah disediakan di sepanjang situ. Yura yang berasal dari Riau, ingin mencoba makanan khas Betawi, yahh, kalau begitu pilihan pertama jatuh kepada makanan khas Betawi yang paling populer, Kerak Telor.
Saya dan Mitha memesan Kerak Telor memakai telur bebek, sedangkan Yura dan Alet memakai telur ayam. Ternyata tidak ada beda harga antara keduanya, tetap Rp. 7.000 baik untuk telur ayam maupun telur bebek. Biasanya Kerak Telor dengan telur bebek lebih mahal Rp. 1.000 dibandingkan yang telor ayam, tetapi keunggulan yang memakai telur bebek adalah Kerak Telor lebih mengembang dan berisi, mungkin karena faktor telur bebek yang ukurannya memang lebih besar dari telur ayam.
Belum puas, saya memesan Toge Goreng, jajanan yang sudah lama tidak lewat rumah saya. Harganya Rp. 5.000, rasanya pedas tetapi segar, karena bumbu kacang dan togenya meresap sempurna Maknyus!
Untuk minumnya saya dari dulu penasaran dengan minuman Bir Pletok, memang sudah sering saya lihat di TV tetapi belum pernah saya coba sendiri. Ternyata saya harus membeli 1 botol, kira-kira sebesar botol sirup, harganya Rp. 10.000, akhirnya saya patungan dengan Yura, yang penasaran juga dengan rasa Bir Pletok. Kami meminumnya dengan es batu agar minumannya dingin. Rasa Bir Pletok seperti sirup rozen, tetapi tidak terlalu manis, serta ada rasa-rasa hangat seperti wedang jahe, begitu masuk ke perut rasanya hangat. Mungkin karena untuk menghangatkan badan, makanya ada embel-embel “bir” di nama minuman ini.
Mitha dan Alet memesan Es Kelapa Muda lengkap dengan batoknya, harganya Rp. 5.000, sebenarnya masih banyak jajanan lainnya di Situ Babakan, kebanyakan jajanannya sudah “punah” di sekitar rumah seperti Laksa, Arum Manis dan Kue Rangi. Tetapi kami sudah kenyang.
Sebelum kami pergi dari Situ Babakan, saya sempatkan diri berfoto di mobil Jeep Willys kepunyaan warga setempat, orang-orang di sini sangat ramah dan ceplas-ceplos. Tanpa ragu-ragu saya mengambil pose di Jip, benar-benar gagah!
Petualangan kami tidak berakhir sampai di sini, episode berikutnya, Masjid Kubah Emas
–
Anton Hermansyah
Gelanggang Remaja & Stasiun Pasar Senen 26 Juni 2008
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Tempat
add a comment
Hari ini (26/6) saya terpaksa membatalkan “kepulangan” saya ke Jogjakarta karena ada kuliah pengganti pada hari Jumat (27/6), dengan berat hati, tiket kereta api pulang pergi yang sudah dibeli oleh tante saya harus saya batalkan.
Pergilah saya ke Stasiun Pasar Senen semenjak siang karena 2 alasan yang pertama adalah takut terkena macet, dan yang kedua takut akan terjadi kerusuhan seperti yang ada di Atma Jaya, Sudirman kemarin (24/6) untunglah alasan yang kedua tidak terjadi, tetapi saya tetap harus menghadapi alasan yang pertama.
Setelah 1,5 jam ngendhok di dalam mobil saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Setelah urusan pembatalan tiket selesai, melihat jalan yang mulai macet (saat itu sekitar jam 16.30), saya memutuskan berkeliling stasiun ini, karena belum siap menghadapi “medan perang”.
Stasiun Pasar Senen tersambung dengan Gelanggang Remaja, di seberang Gelanggang Remaja adalah Kolam Renang Gelanggang Remaja yang dipisahkan oleh lapangan yang terlihat tidak begitu terawat tetapi masih baik untuk dilihat.
Di dalam gedung terdapat sebuah aula di mana saya lihat anak-anak sedang berlatih tarian tradisional, hal yang sudah lama saya tidak lihat semenjak masuk kuliah dan perhatian saya tersita untuk saham dan kurva. Semoga dengan ada anak-anak seperti mereka kebudayaan-kebudayaan di Indonesia tidak hilang, malah semakin berkembang.
Naik ke lantai 2, merupakan atap dari gedung aula, saya mencoba berkeliling di atas tetapi tidak menemukan pintu masuk untuk ke dalam gelanggang. Atap gedung aula ini menjadi tempat bersantai atau tempat janjian, maklum saat sore hari tidak panas, dan anginnya sepoi-sepoi dan tidak membawa asap kendaraan yang berlalu-lalang di jalan bawah.
Turun ke lapangan utama ada sebuah patung yang terletak di tengah lapangan, tidak terlalu terawat, dan di sekitar patung itu berbau pesing, mungkin banyak orang pipis sembarangan di sana, dan memang orang begitu saja berlalu-lalang mengacuhkannya. Patung yang dibangun tahun 1986 itu diberi nama “Tekad Merdeka”, patung itu memang menggambarkan putera-puteri Indonesia angkatan ’45 . Di salah satu sisi patung tersebut tertulis :
Tuhan, jika aku gugur dan Kau takdirkan aku hidup kembali sekali lagi Aku akan korbankan jiwaku untuk nusa dan bangsa!
Di sisi sebaliknya terdapat tulisan :
Jajaran generasi ’45 mempunyai kedudukan tersendiri dalam jalannya sejarah bangsa, karena selain mendukung ide juga mengetuskan Proklamasi
Saya kira, bahwa patung ini dibuat untuk mengobarkan semangat remaja-remaja yang beraktivitas di Gelanggan Remaja seperti semangat generasi ’45 terdahulu yang sudah berjuang untuk nusa dan bangsa ini.
Ahh, benar-benar terasa bangkit kembali semangat nasionalisme dengan petualangan singkat ini, memang kini kita sudah tidak menghadapi perang untuk kemerdekaan, tetapi kita menghadapi “Perang Globalisasi”, bukan hanya melawan Belanda dan Jepang melainkan seluruh dunia, untuk menunjukkan prestasi dan harga diri nusa dan bangsa ini (seperti iklan kebangkitan nasional saja ya).
Saya pun kembali ke mobil dan bertekad berjuang, setidaknya untuk menghadapi macetnya Jakarta saat jam pulang kantor.
–
Anton Hermansyah
Pedasnya Spesial Sambal 18 Juni 2008
Posted by anhe51 in Tidak Serius.Tags: Makanan, Tempat
add a comment
Sore hari sehabis asistensi Manajemen Portofolio, saya bersama teman-teman saya, Aan, Adi, Angga Boz, Angga Bubu, dan Boniarga. emm sebenarnya tidak pantas menyebut mereka teman, karena hubungan kami yang begitu erat, mereka bisa saya sebut sebagai “Keluarga“ bagi saya.
Oh ya, kembali ke topik, karena kami kelelahan akibat haru mengikuti kuliah ditambah asistensi (yang membuat kami harus duduk di ruangan kelas dari jam 2 sampai jam 6 sore), kami pun memutuskan untuk makan dahulu sebelum pulang ke rumah. Pilihan kami adalah Warung Spesial Sambal yang terletak tidak jauh dari kampus UI.
Sesuai namanya, warung ini mengandalkan rasa pedas sebagai daya tariknya, juga variasi sambal yang luar biasa banyak. Dari pilihan itu kami memilih sambal udang, bawang, dan terasi segar sebagai pendamping lauk (saya lupa sambal yang lainnya) ditambah sambal bajak sebagai bonus dari Warung SS. Sambal terasi segar dan bawang adalah sambal terpedas yang dipunyai SS.
Sebagai hasil dari pedasnya sambal bibir kami memerah seperti pakai lipstick, keringat mengucur deras, memesan minuman tambahan, mengambil kerupuk banyak-banyak, sebagai penetral rasa pedas, empat bakul nasi yang ada di meja kami pun ludes. Reaksi-reaksi pribadi :
- Adi memesan minuman dan mengambil kerupuk berkali-kali dan hidungnya meler
- Angga Boz berulang kali mengatakan “Ini sambal setan!!” setelah mencoba sambal bawang dan terasi segar dengan bibir yang memerah
- Angga Bubu menjadi “pancuran hidup“, banjir keringat
- Saya sendiri nyaris menghabiskan satu bakul nasi, mengambil 2 kerupuk, dan memesan minuman tambahan (ditambah sumbangan es batu dari minuman yang lainnya), hidung meler dan kepala berkunang-kunang karena mencoba menghabiskan sambal terasi segar
- Boni dan Aan sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera handphone mereka
Benar-benar pengalaman yang “pedas” tetapi tidak membuat kami kapok. Malah kami berencana mengajak teman-teman yang lainnya untuk merasakan pengalaman yang kami rasakan. Tentunya kami juga ingin melihat reaksi mereka kalau kepedasan!!
–
Anton Hermansyah
Kos-Kosan Fakhrul 17 Juni 2008
Posted by anhe51 in Lumayan Serius.Tags: Rumah, Tempat
add a comment
Kos ini adalah milik Fakhrul Fulvian, mahasiswa FEUI jurusan IE angkatan 2005. Kos ini terletak di Gang Kober dekat UI, nama gangnya saya tidak tahu, mempunyai luas sekitar 4×3 meter dan kamar mandinya terletak di luar kamar.
Udaranya lembab, mungkin lebih pantas disebut pengap, setidaknya itulah yang sering saya rasakan pada saat berada di kos ini, itu karena udara di kamar yang kecil ini pernah sering dipakai oleh saya dan 2 orang sahabat saya yaitu Fajar Indra dan sang empu kos ini yaitu Fakhrul Fulvian. Kami bertiga selama sekitar 2 bulan dari akhir Desember 2007 sampai akhir Januari 2008 bersama-sama mengerjakan soal-soal pertandingan The 8th L’Oreal e-Strat Challenge. tidak menang sih, tetapi kami mendapatkan hubungan persahabatan, sebuah hubungan yang saya pikir sulit di cari di kehidupan di Jakarta, tempat d mana egoisme begitu tinggi.
Khusus bagi saya, kos ini telah membawa saya kembali mengingat kehidupan sewaktu masih kos di Jogjakarta. Suasana jauh dari orang tua, makan harus di irit sesuai kiriman bulanan, tak luopa yang paling penting adalah aroma kebebasan yang semerbak. Aroma yang sudah 2 tahun saya tidak rasakan setelah pulang kembali ke Jakarta (mungkin suatu saat akan saya ceritakan mengenai Jogja dan Jakarta ini) Pernah kami tidur bertiga, berbagi tempat dan udara di kamar ini setelah selesai mengerjakan perhitungan e-Strat berbagi ruang ada udara yang terasa terbatas pada saat itu, ada yang tidur di lantai, ada yang tidur di kasur sempit berduaan, saat itu sedang panas-panasnya. Di kamar ini pula kami sering berdiskusi dan berdebat, dari suasana akrab sampai berantem pernah dialami, dan ada kalanya kami saling berhutang untuk membiayai makan masing-masing. Memang saat-saat itu adalah saat -saat “susah” tetapi saya percaya nant semua itu akan menjadi kenangan pada saatnya nanti kami berkumpul kembali di masa depan.
–
Anton Hermansyah



















